Sabtu, 28 November 2009

Halangan dan hambatan adalah tantangan








Ya, judul yang kupilih ini setidaknya menggambarkan betapa dalam berusaha kita harus memiliki ketekunan. Keberhasilan yang nantinya akan didapat adalah buah dari kesabaran dan sejauh mana komitmen kita terhadap sesuatu yang kita kerjakan.


Tidak ada bisnis yang semulus jalan tol yang sedang sepi. Aku juga mendapati  kendala di bisnis ini. Baru juga menyodorkan katalog, sudah mengalami penolakan. Tapi, bukan aku namanya kalau menyerah. Ngobrol ngalor ngidul, ngetan ngulon---mencari kesamaan dengan calon konsumen, membuahkan hasil.

Ini dialog yang benar-benar terjadi kemarin dengan tetangga di belakang rumahku.

“Waduh, Dek. Maaf-maaf aja nih, aku nggak suka pake kosmetik,” katanya sambil mendorong tanganku yang membawa catalog.
“Lho, kok sama, Mbak ? Pernah nggak Mbak liat aku pake lipstick sewaktu kelililng komplek sama anak-anak?” kataku. Ini bukan ngecap aja lho. Aku terkenal cuek urusan riasan wajah.
“Iya, Dek. Males ya, dandan-dandan,” sambungnya. Nah, aku tahu, modelnya Mbak ini pasti suka pake bedak bayi anaknya, sama kayak aku juga, hehe.
“Iya, baru kerasa kalo mau ke undangan resmi gitu, ya Mbak. Bedak bayi kan segernya sebentar aja, trus satu jam di jalan udah ilang deh, ketiup angina ‘kali, yaa…hehe,” bisaaaa…. aja.
“…Lha, jadi inget, aku nggak punya bedak, ada bedak yang diskon nggak?” ini dia yang kutunggu.

Lumayan, akhirnya Mbak tetangga belakang rumah jadi konsumenku, dia pesan bedak, Alhamdulillah.

Ntar kapan-kapan kalo maen ke rumahnya lagi, bisa deh tuh jadi calon prospek. Amin.

Mendapatkan downline memang tidak mudah tapi ini tidak boleh menjadi alasan. Alasan selalu bisa dibuat untuk mendukung segala uneg-uneg kita - - - makanya harus tetap berusaha dan memelihara semangat.

Tapi niat dan semangat saja tidak cukup, lho, berusaha maksimal !

Mau tahu ada apa di bisnisku, pertama maen dulu ke www.eka.shop.com dan tinggalkan jejakmu disana...
 

Cantik


Apa yang terbersit di benak kita saat mendengar kata cantik? Kulit putih mulus, hidung lancip dan mancung, rambut hitam mengkilat bak kain satin? Wajah yang demikianlah yang cantik menurut sebagian besar orang. Tapi, aku tidak termasuk mereka.


Saat anak keduaku lahir dan aku melihat wajahnya untuk pertama kali, aku tahu bahwa aku harus menciptakan konsep cantik yang ’benar’ karena Alhamdulillah Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya. Segala kekurangan merupakan kesempurnaan menjadi seorang manusia.



Anakku, Nasya Aqilla Larasati berkulit kuning langsat, sedikit lebih gelap dari kulitku tapi jauh lebih terang dibandingkan kulit Abahnya yang gelap. Sebenarnya aku mengharapkan hidung mancung Papaku yang masih keturunan Timur Tengah itu menurun ke adikku dan anaknya, akan juga dimilikinya. Tapi, Allah berkehendak lain, rejeki fisik kedua anakku bukan terletak di hidungnya, tapi di jidat yang lebar. Alhamdulillah.

Aku memanggilnya ‘cantik’.



Ibu mertuaku bilang, “Orang cantik itu yang seperti putri Indonesia. Apa iya, Nasya seperti itu….kulihat-lihat tidak kok.” begitu kata beliau.

Aku tidak marah. Memang ada cucu favoritnya yang cantik dan wajahnya miriiiip sekali dengan beliau. Itulah yang cantik. Hehe…

Aku tetap memanggil Nasya ‘cantik’. Terserah orang mau bilang apa. Tetangga depan rumahku kadang ikut-ikutan memanggilnya ‘cantik’, teman kantor suamiku juga memanggilnya ‘cantik’.



Nasya bertambah besar, sekarang tiga tahun dua bulan umurnya. Dia suka menyisir rambut di depan cermin, lalu berlari padaku dan bertanya, “Mama, aku cantik?”. Aku menyadari bahwa aku harus lebih memperkenalkan konsep cantik.

Di kesehariannya, selesai dia mandi, aku menyebutnya cantik. Selesai sholat, aku menyebutnya anak cantik mama, anak sholeha. Jika dia selesai mewarnai, kusebut ana k cantik mama, anak rajin. Atau saat dia mau belajar membaca, aku menyebutnya anak cantik mama, anak pintar.



Dia selalu merasa cantik dan percaya diri dengan bibir dan hidung mungilnya. Aku sungguh berharap dia tetap seperti itu hingga kelak dia dewasa.

Oriflame, satu merek kosmetik yang telah sejak lama aku dengar dan ketahui.


Mamaku adalah salah satu konsumennya.


Suatu hari aku melihat tampilan yang lain di Face Book temanku yang juga tetangga akrabku di Medan. Di kolom sebelah kiri, ada sebuah web dBC network. Aku merasa ingin tahu dan mencoba browsing kesana. Oh, ternyata ada peluang bisnis on-line dengan beberapa keuntungan sekaligus.


Aku masih belum tergerak waktu itu.


Beberapa kali mampir di web tersebut, aku mulai menemukan hal-hal yang menarik. Ternyata bisnis on line Oriflame tidak menjanjikan mimpi setelah daftar langsung dapet untung besar semacam menggandakan uang. Harus berusaha barulah mendapatkan hasil.


Menjalankan Oriflame, sangat mengasyikkan. Kita bisa menyetel sendiri target kita. Makin rajin berarti makin besar kesempatan untuk berhasil. Dan satu hal yang sangat penting, bagi full time mothers, kita bisa menjalankan bisnis ini tanpa perlu meninggalkan tugas sebagai ibu rumah tangga.


Ingin tahu bisnis apa yang bisa membuatku bergabung dengan M*LM special ini? www.eka.shop.com


Aku hanya perlu mengisi data pribadiku dan mengirimkan KTPku ke teman yang menjadi up lineku. Keesokan harinya ada seorang kurir yang mengantarkan starter kit dan mengambil uang pendaftaran yang hanya Rp. 39.900,00 itu ke rumahku. Murah kan?


Selain mendapatkan keuntungan dari penjualan langsung produk Oriflame, kita juga disupport oleh team untuk mendapatkan downline, agar bisa mendapatkan poin menuju level tertentu. Makin tinggi level, makin banyak bonus yang kita akan dapatkan. Kemudahan mendapatkan poin bisa kita dapatkan jika kita mempunyai down line atau anak buah. Targetku mencapai level pertama telah berhasil bulan November ini. Yes, I'm a 3% manager !


Dan akan menjadi target teman-teman juga setelah memutuskan untuk bergabung.