Apa yang terbersit di benak kita saat mendengar kata cantik? Kulit putih mulus, hidung lancip dan mancung, rambut hitam mengkilat bak kain satin? Wajah yang demikianlah yang cantik menurut sebagian besar orang. Tapi, aku tidak termasuk mereka.
Saat anak keduaku lahir dan aku melihat wajahnya untuk pertama kali, aku tahu bahwa aku harus menciptakan konsep cantik yang ’benar’ karena Alhamdulillah Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya. Segala kekurangan merupakan kesempurnaan menjadi seorang manusia.
Anakku, Nasya Aqilla Larasati berkulit kuning langsat, sedikit lebih gelap dari kulitku tapi jauh lebih terang dibandingkan kulit Abahnya yang gelap. Sebenarnya aku mengharapkan hidung mancung Papaku yang masih keturunan Timur Tengah itu menurun ke adikku dan anaknya, akan juga dimilikinya. Tapi, Allah berkehendak lain, rejeki fisik kedua anakku bukan terletak di hidungnya, tapi di jidat yang lebar. Alhamdulillah.
Aku memanggilnya ‘cantik’.
Ibu mertuaku bilang, “Orang cantik itu yang seperti putri Indonesia. Apa iya, Nasya seperti itu….kulihat-lihat tidak kok.” begitu kata beliau.
Aku tidak marah. Memang ada cucu favoritnya yang cantik dan wajahnya miriiiip sekali dengan beliau. Itulah yang cantik. Hehe…
Aku tetap memanggil Nasya ‘cantik’. Terserah orang mau bilang apa. Tetangga depan rumahku kadang ikut-ikutan memanggilnya ‘cantik’, teman kantor suamiku juga memanggilnya ‘cantik’.
Nasya bertambah besar, sekarang tiga tahun dua bulan umurnya. Dia suka menyisir rambut di depan cermin, lalu berlari padaku dan bertanya, “Mama, aku cantik?”. Aku menyadari bahwa aku harus lebih memperkenalkan konsep cantik.
Di kesehariannya, selesai dia mandi, aku menyebutnya cantik. Selesai sholat, aku menyebutnya anak cantik mama, anak sholeha. Jika dia selesai mewarnai, kusebut ana k cantik mama, anak rajin. Atau saat dia mau belajar membaca, aku menyebutnya anak cantik mama, anak pintar.
Dia selalu merasa cantik dan percaya diri dengan bibir dan hidung mungilnya. Aku sungguh berharap dia tetap seperti itu hingga kelak dia dewasa.
.bmp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar